Ginjal Milikku Sakit

Betapa terkejutnya aku ketika berseni saat bangun tidur, betapa tidak, air seni yang kubuang berwarna merah pekat seperti darah. Anehnya aku tidak merasa sakit waktu itu, berseni seperti biasa. Bahkan ketika aku berseni yang ketiga hingga kelima, air seni tidak lagi merah pekat, hanya berwarna pink bening…

Aku semakin khawatir dan takut, telah banyak kudengar cerita tentang keluhan berseni salah satunya seperti yang kualami. Langsung saja aku berpraduga ada masalah dengan ginjalku. Ketika itu juga aku memperiksakan diri ke RS PMI Bogor.

Namun ketika itu hari Minggu, poliklinik RS PMI tutup dan aku tidak diterima di UGD alasannya karena sakitnya bukan kategori tidak mendesak. Aku bingung, khawatir dan takut terjadi sesuatu yang parah dengan ginjalku, akupun pulang.

Keesokan harinya aku pergi memperiksakan lagi ke PMI, aku yakin hari ini pasti buka. Aku diperiksa di bagian urologi. Namun harapan kepastian penyakitku belum terpuaskan karena aku harus cek urin dan darah terlebih dahulu. Ada 2 kemungkinan yang diduga dokter yaitu ginjal atau hati.

Ketika kuperiksakan air seni dan darah, anehnya air seni berwarna seperti biasa, tidak lagi merah atau pink. Aku bingung, apa sakit ini sudah berlalu. Namun aku tetap melakukan tes tersebut. Aku takut dengan berubahnya warna menjadi normal, laboratorium tidak bisa membuktikan masalah dalam diriku. Sungguh aku cemas, aku harus menunggu esok dan berharap hasil yang baik.

Keesokan harinya aku mengambil hasil lab, aku tidak mengerti bahasa kedokteran, semua normal hanya epitel yang tidak normal, leukosit dan eritrosit. Ketiga penanda ini menunjukkan positip dalam air seni.

Kebingunganku terjawab, aku memiliki hati yang normal, namun ginjal yang bermasalah. Kata dokter air seniku banyak mengandung darah. Ada 2 hipotesa yaitu batu ginjal atau tumor, dan tumor yang berhubungan dengan ginjal biasanya ganas alias kanker (menurut yang aku baca). Sungguh seperti tersambar petir di siang dari, terkejut bukan main. Akhirnya dokter memintaku untuk melakukan rontgen BNO IVP agar didapat gambar dengan kontras dan diketahui masahnya dengan jelas hingga ukurannya.

Aku harus melakukan janji terlebih dahulu dengan lab rontgen, karena melakukan rontgen jenis ini memerlukan persiapan, perut harus benar-benar kosong saat melakukannya. Biaya rontgen jenis ini 490 ribu.

Sehari sebelum rontgen aku harus puasa dan pada malam harinya minum garam inggris agar semua isi perut keluar. Perutku bagian bawah, tepat di atas kemaluan terasa perih, aneh, sebelumnya tidak demikian. Aku jadi sering meraa ingin berseni tapi setelah melakukannya air seni yang keluar hanya sedikit, terkadang warnanya kembali merah.

Keesokan harinya dengan perut kosong aku kembali ke PMI melakukan Rontgen, ternyata sebelum aku ada yang melakukan rontgen dengan jenis yang sama. Kutunggu ternyata lama juga, kurang lebih satu jam setengah. Singkat cerita, aku telah selesai melakukan rontgen.

Ketika aku pulang naik angkot sungguh tidak nyaman, akuk harus berhenti beberapa kali mencari toilet untuk berseni dan air seninya tidak banyak. Sakit benar di perut bagian bawahku seperti tertusuk-tusuk jarum, bahkan di kemaluan pun terasa nyeri. Aku harus menahan nyeri sampai di rumah.

Pada sore hari setelah shalat ashar, aku kembali terkejut, kali ini ada sesuatu yang keluar bersama air seniku. Benda itu kerikil berwarna hitam pekat dengan diameter 1 mm. setelah krikil keluar, nyeri dalam perutku menghilang.

Aku akan kembali ke PMI untuk konsultasi hasil rontgen dengan dokter. Aku sangat berharap tidak ada masalah yang berat menimpa organ dalamku.

Berikut gejala-gejala yang aku rasakan hingga aku melakukan rontgen.

1. Jangan pernah sepelekan sakit pinggang, rasanya memang seperti pegal-pegal biasa, tapi nyeri yang berkepanjangan patutu dicurigai
2. Sering kembung, perut keras, perut bagian bawah sakit, air seni masih normal
3. Ada keluhan di punggung seperti pegal-pegal dan mudah letih, lemah, lesu
4. Air seni berwarna pink, pancaran lemah dan bercabang seperti kipas, air seni dapat menetes ke kaki (kalau kencing berdiri “seperti di iklan”)
5. Warna urin berubah-ubah, pink-kuning. Kadang hal ini disangka akibat pewarna makanan. Kata dokter seni yang seperti ini diduga akibat tumor.
6. Nyeri hebat di ginjal tak tertahankan disertai sir seni berwarna merah ketika berseni, pertanda pergerakan batu dalam ginjal atau saluran ginjal. Batu melukai dinding organ dan berdarah
7. Nyeri di bawah perut hingga kemaluan, pertanda batu berada di kandung kemih
8. Keluar batu ketika berseni dan menimbulkan efek nyaman (tidak nyeri lagi). Bukan berarti masalah selesai, perlu dipastikan dengan rontgen apakah batunya benar keluar habis atau masih ada di dalam tubuh.
9. Berdoa tulus ikhlas memohon kesembuhan pada Allah SWT

Mohon doa para pembaca budiman agar penyakitku ini dapat sembuh dengan cepat, tanpa efek samping dan dengan biaya yang murah. Amien… terima kasih.

Diet Golongan Darah

Mengatur Makanan Sesuai Golongan Darah..?
Gizi.net – Golongan darah Anda O? Hindari kacang-kacangan dan mustard. Yang bertipe darah A, hindari produk susu dan daging. Begitu sekelumit aturan diet yang didasarkan pada golongan darah.

Metode yang cukup baru ini masih diperdebatkan para ilmuwan, tapi pengikutnya sudah banyak. Apa kelemahan dan kelebihannya?

Kegemukan atau berat badan yang berlebih memang mengandung banyak risiko. Selain tubuh tak nyaman dan penampilan kurang sedap dipandang, dari sisi medis juga tidak menyehatkan. Data studi Framingham (AS) menunjukkan bahwa kenaikan berat badan sebesar 10 persen pada pria akan meningkatkan tekanan darah 6,6 mmHg, gula darah 2 mg/dl, dan kolesterol 11 mg/dl.

“Karena itu, kalau kegemukan dibiarkan terus, orang bisa menderita penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan lainnya,” tutur Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, Dosen Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB, Bogor.

Kalau begitu jelas sekali bahwa berat badan yang berlebihan harus dikurangi. Dewasa ini ada banyak metode yang ditawarkan berkaitan dengan cara mengurangi berat badan. Dimulai dari sedot lemak, pembalutan, minum ramuan herbal atau obat, mandi uap, sampai mengatur pola makan atau diet. Yang terakhir ini pun masih memiliki cukup banyak ragam.

Tentu saja, setiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Semua tergantung pada kondisi dan kebutuhan tubuh setiap pelakunya.

Sekitar tahun 1996 di Amerika diperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan pada golongan darah si pelaku. Diet ini diperkenalkan oleh seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut, Amerika Serikat, bernama Dr. Peter J. D’Adamo.

Dalam proses sosialisasinya, teori ini dicerca para ahli, tapi juga banyak diterapkan orang. Memang ada yang mengatakan bahwa diet macam ini bermanfaat. Nah, apa itu diet berdasar golongan darah dan apa kelemahan serta kelebihannya?

Teori Evolusi
Dalam bukunya berjudul “Eat Right For Your Type”, Dr. D’Adamo menyebutkan bahwa manusia yang memiliki tipe darah berbeda pasti memiliki respon atau tanggapan terhadap makanan yang berbeda pula.
Gagasan ini berakar pada sejarah evolusi, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan golongan darah (O, A, B, dan AB).

Berdasar sejarah evolusi itu disebutkan bahwa sekitar 50.000 sampai 25.000 tahun SM, nenek moyang kita memiliki tipe darah yang sama, yakni O. Mereka ini adalah para pemburu sejati. Setiap hari makanan pokoknya daging.

Namun, pada sekitar tahun 25.000 sampai 15.000 SM, ketika gaya hidup manusia berubah dari pemburu menjadi peramu dan kemudian agraris, muncullah tipe darah A, sebagai penyesuaian atas kebiasaan yang ada. Kemudian, akibat percampuran dari berbagai ras dan terjadinya migrasi dari Afrika ke Eropa, Asia, dan Amerika, tipe darah B muncul. Selanjutnya di zaman modern yang sudah penuh dengan bermacam manusia, tipe darah AB baru ada.

Dalam hal ini, Dr. D’Adamo yakin bahwa kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang dimiliki manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan tipe darah. Adaptasi yang tentu saja terkait dengan makanan yang diasup, diyakini D’Adamo menjadi kunci sehat nenek moyang kita.

Karena itu, menurut dia, kalau mau sehat kita mesti makan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang. Misalnya saja, ia memberi rekomendasi bahwa mereka yang bertipe darah O cocok melakukan diet dengan mengasup lebih banyak daging, sedangkan untuk golongan darah A mengikuti diet vegetarian, yakni mengonsumsi makanan rendah lemak.

16 Kategori
Bagaimanakah kesimpulan itu bisa didapat Dr. D’Adamo? Tentu saja jawabannya lewat penelitian-penelitian yang sudah dilakukannya.
Penelitian selama bertahun-tahun atas tipe darah menunjukkan bahwa ada efek fisiologis yang muncul akibat lektin yang masuk dalam tubuh. Lektin adalah protein yang terdapat pada umumnya makanan, khususnya biji-bijian dari tanaman polong-polongan.

Setiap protein yang terserap tubuh lewat makanan yang kita asup, menurutnya, masing-masing hanya cocok dengan tipe darah tertentu. Kalau makanan tersebut lektinnya tidak cocok dengan tipe darah, akan terjadi bahaya. Bahaya itu berupa menggumpalnya sel darah merah. Proses yang disebut aglutinasi yang dilakukan lektin inilah yang mengakibatkan munculnya banyak keluhan kesehatan.

Terkait dengan persoalan inilah, Dr. D’Adamo melakukan penelitian dengan mengecek reaksi setiap tipe darah terhadap makanan tertentu. Berdasarkan penelitian ini, ia membuat daftar makanan apa saja yang cocok dengan tiap-tiap tipe darah.

Bahkan selain tipe darah, masih digolongkan juga makanan berdasarkan ras. Sebab, menurutnya, tipe darah masing-masing ras berbeda. Ini akibat dari perbedaan lingkungan yang ditempatinya.

Hasilnya, terdaftar oleh Dr. D’Adamo 16 kategori makanan. Terdiri dari: daging dan unggas; hasil laut; susu dan telur; minyak dan lemak; kacang dan biji-bijian; buncis dan polong-polongan; sereal; roti dan aneka kue; padi-padian dan pasta; sayur-sayuran; buah-buahan; jus dan segala macam cairan; rempah-rempah dan bumbu; teh-teh herbal; dan bermacam-macam minuman.

Makanan-makanan ini masih dimasukkan dalam golongan sangat baik, netral, atau harus dihindari sesuai tipe darah. Golongan sangat baik bisa diartikan bahwa makanan itu bekerja bagaikan obat. Golongan netral berarti makanan tersebut bekerja sebagaimana yang pengaruhnya kecil bagi tubuh. Golongan dihindari berarti makanan bertindak bagaikan racun bagi tubuh.

Kurang Ilmiah
Program diet ini telah menjadi tren di beberapa negara. Karena itu, banyak pengikut Dr. D’Adamo yang sudah mencobanya.
Sebagian dari mereka menyatakan bahwa cara diet ini tidak hanya membantu mengurangi berat badan — walaupun maksud sebenarnya bukanlah untuk itu — juga bisa memperbaiki kondisi kesehatan. Karenanya, buku karangannya setebal 400 halaman itu menjadi best seller (laris manis) di beberapa negara.

Banyaknya kesaksian akan manfaat diet ini bukan berarti membuat para ahli diet dan ilmuwan langsung setuju begitu saja. Banyak pihak, terutama dari kalangan ilmuwan, menyebutkan bahwa teori Dr. D’Adamo ini kurang ilmiah.

John McMahon, ND, seorang naturopatis dari Wilton Connecticut, AS, menyatakan bahwa teori itu masih harus diteliti lebih lanjut. Dikatakan John bahwa penelitian Dr. D’Adamo atas pengaruh lektin terhadap makanan dijalankan di luar tubuh, maksudnya hanya dilakukan di sebuah tabung uji. Padahal, semestinya harus diteliti dalam tubuh.

Selain itu, efek lektin makanan yang sudah dimasak juga belum terbukti. Memang, Dr. D’Adamo melakukan tes terhadap makanan yang belum dimasak. Namun, bukankah makanan yang diasup biasanya sudah dimasak?

Sikap dan pernyataan yang sama juga diungkapkan John Foreyt, Ph.D, ilmuwan dari Baylor College of Medicine di Houston, AS. “Walaupun teori ini sudah lama dibicarakan dan diteliti, tidak ada kesimpulan yang didapat. Tidak ada kaitannya antara tipe darah dan penyakit tertentu. Ini adalah loncatan kesimpulan yang masih perlu diteliti lebih lanjut,” tutur Andrea Wiley, Ph.D, profesor antropologi dari James Madison University di Harrisonburg.

Bahkan Dr. Samuel Oetoro,MS., ahli gizi dari Klinik Nutrifit di Jakarta menambahkan bahwa penelitian yang dilakukan Dr. D’Adamo tidak memenuhi standar penelitian ilmiah. Teori yang diajukannya hanya berdasar bukti empiris atau pengalaman yang dijalankan orang. “Jelas itu tidak cukup,” tuturnya.

Padahal, kalau sebuah teori hendak dijadikan pegangan, mesti melewati proses penelitian tingkat tertinggi yang disebut Prospectif Double Blind Randomize Clinical Trial. Maksudnya, penelitian tersebut mesti dilakukan dengan objek yang diambil secara acak (random).

“Yang terjadi pada Dr. D’Adamo tidak demikian. Orang yang diteliti sudah ditentukan, yakni mereka yang pernah datang ke kliniknya. Mereka pun sudah tahu kalau menjalani diet tipe ini, padahal semestinya tidak demikian,” papar Dr. Samuel.

Selain acak, pasien harus dibagi dalam dua kelompok, mereka yang menjalankan diet dan tidak. Untuk itu pasien tidak boleh tahu bahwa mereka dibagi dalam dua kelompok. Bahkan mereka juga tidak boleh tahu (blind) kalau sedang diteliti. Juga tidak boleh tahu kalau sedang menjalani diet model ini. Setelah beberapa waktu, hasilnya baru dibandingkan. Dengan alasan kurang ilmiah inilah, bisa dipahami bahwa diet ini tidak dianjurkan oleh ahli gizi.

Gizi Seimbang
Bagi banyak ahli gizi di Indonesia, juga di negara-negara lain, diet yang terbaik untuk dijalankan sampai saat ini adalah dengan gizi seimbang.
Dr. Samuel menjelaskan bahwa diet gizi seimbang adalah mengasup makanan dengan kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

Makanan yang kita asup setiap hari mesti lengkap mengandung semua unsur tersebut. Misalnya, hari ini kita mengonsumsi nasi untuk sumber karbohidrat, tempe atau daging untuk kebutuhan protein, sayur buncis dan wortel untuk kebutuhan vitamin dan mineral, serta minum susu untuk kebutuhan lemaknya. Hari selanjutnya bahannya bisa variasi. Yang jelas, tidak membosankan, tapi juga jangan sampai tidak seimbang.

Pendapat sama juga diungkapkan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan. Menurutnya, berbagai macam diet yang ditawarkan sering tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

“Setiap individu itu unik dan berbeda. Karenanya, apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Kebutuhan nutrisi setiap orang tergantung pada usia, tingkat stres, jenis kelamin, berat badan, faktor emosional, latihan fisik yang dijalankan, dan penyakit yang diderita,” sebut Prof. Ali.

Karena itu, setiap orang mesti paham benar dengan dirinya. Tipe darah bisa dipakai sebagai tambahan informasi untuk mengenali diri, tapi jangan digunakan sebagai patokan dasar. Kalau kurang paham, kita bisa berkonsultasi dengan ahli gizi bagaimana menyikapi diri sendiri. “Yang jelas, setiap hari gizi seimbang dengan variasinya mesti dijalani,” tutur Dr. Samuel.

Khas Pemburu Sampai Sensitif
Berdasar penelitiannya, Dr. D’Adamo membuat kesimpulan untuk masing-masing tipe darah, sebagai berikut:

Tipe darah O, yang disebut sebagai pemburu, memiliki ciri khas:
– Sistem kekebalannya berlebihan.
– Dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi protein dan rendah karbohidrat, seperti daging, buah, ikan, sayuran.
– Tidak cocok bila berdiet dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.
– Respon yang baik atas stres bisa ditanggapi dengan aktivitas fisik.
– Memiliki risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh radang dan kerusakan organ seperti arthritis bila makanan yang diasup tidak sesuai.

Tipe darah A berciri khas:
– Jalur pencernaan cukup sensitif.
– Dianjurkan menjadi vegetarian atau makan tinggi karbohidrat dan rendah lemak.
– Stres biasanya bisa diatasi lewat meditasi.
– Sistem kekebalan tubuhnya tidak sekuat tipe O.

Tipe Darah B berciri khas:
– Dianjurkan untuk melakukan diet dengan berbagai variasi dari semua tipe darah termasuk di dalamnya daging.
– Tipe darah ini sangat cocok dengan asupan produk susu.
– Dianjurkan juga menjalani latihan gerak seperti renang dan jalan kaki.
– Bila makanan yang diasup tidak sesuai dengan tipe ini, diduga risiko terkena virus yang bisa menyerang sistem saraf sangat tinggi.
– Memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat.
– Bila seseorang bertipe ini stres, akan sangat cocok bila diatasi dengan melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas.
– Tipe darah ini adalah tipe yang paling seimbang.

Tipe Darah AB berciri khas:
– Memiliki jalur pencernaan yang sensitif.
– Sistem kekebalan tubuh sangatlah toleran.
– Respon yang paling baik terhadap stres biasanya dengan melakukan kegiatan spiritual dibarengi dengan aktivitas fisik dan kreativitas.
– Masih dalam tahap evolusi.
– Paling mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan bentuk diet.
– Bentuk gabungan dari tipe A dan B.
(Abdi Susanto, http://www.kompas.co.id/ 21 April 2003)

Protected:

This content is password protected. To view it please enter your password below: