Cuma Egoku Saja Pengen Cerita ini


malem ini aku gak bisa tidur.. jari di atas keyboard dari tadi tapi gak membuahkan apa-apa. maaf ya kalo aku saat ini sedang inget dia, someone special.. aku yakin kamu juga punya orang yang sangat spesial.. dan ini penggalan kisahku dengannya.

ketika itu, senin seperti biasanya kamu aku kenal sebagai wanita yang ceria.. bahkan saat kamu bilang “aku kayaknya sakit deh” masih dengan cengengas-cengenges.. hahaha.. orang yang aneh🙂

ketika malam tiba, katamu badan jadi lebih panas, pusing, pegel-pegel di leher.. seperti demam biasa. tapi ketika siang semuanya seperti hilang, memang ketika itu kamu sedang banyak kegiatan ngajar di bintang pelajar, ngajar reguleh dan privat juga dilakoni, kerja tayang.. tak lain untuk alasan yang simpel, fee…

hingga rabu, keadaanmu tidak lebih baik, padahal sudah minum jus jambu kesukaan kita berdua, sudah kupaksa-paksa makan sayuran, tapi demam itu tidak lebih baik. akhirnya kami bertamu ke klinik farfa, dan melengkapi pemeriksaan dengan tes darah..

“tenang aja, baik-baik aja kok.. ^_^” senantiasa aku menenangkannya, senantiasa iapun membalasku dengan senyum ceria.. yah.. walau ia tak bisa melihat wajahnya sendiri yang sedang pucat..

tak ada yang aku lakukan selain optimis dan yakin seperti biasanya, bahwa esok hasil tes darah akan memberitahukan kabar yang baik. smile-smile-smile sambil “kucekokin” sayuran dari ibu berlin hehe..

keesokannya seperti tidak ada apa-apa pula kami menerima hasil laboratorium, angka-angka dan tanda-tanda di atas kertas itu gak kami pahami.. entahlah bahasa medis bukan santapan kami di perkuliahan hortikultur..

beberapa hari kemudian tidak ada moment yang penting, aku hanya sering mengingatkannya minum obat dan “makan yang banyak biar ndut” kataku… dan seperti biasa pula aku tetap positif thinking semua kan baik-baik saja..

dan pada hari minggu, seperti biasa aku ke kosan dia seperti kosan kedua saja – karena saking seringnya – dan aku disambut dengan wajah sangat pucat.. “ya allah, ada apa dengan orang yang aku sayangi ini?” batinku tersentak, seprti ada warning yang mengingatkanku..

“kamu gpp neng, kamu pucet banget tuh”, “iya mas tuing-tuing nih..” jawabnya sambil bercanda.. Ni orang masih aja ceria begini, wajahnya udah pucet kaya apaan tau dah…

“udah neng, sekarang kita periksa lagi yuk.. kita ke PMI..”

masih saja aku positif tidak akan ada sesuatu yang terjadi dengannya, sama sekali tidak akan ada apa-apa… (biarpun gitu sebenernya aku was-was loh, hanya saja aku berusaha tenang..) sepanjang perjalanan di angkot, ia letakkan kepalanya dibahuku.. sambil sesekali cerita, entah ia cerita apa.. aku hanya berfokus PMI..PMI.. dan PMI.. tapi yang akuingat, entah berapa kali ia bilang.. “aduuh.. tuing-tuing kepalaku” dengan logat sundanya..

bak tamu istimewa ia seperti disambut suster-suster.. yah, dokter umum gak buka praktek, jadi deh masuk UGD.. “mba sakit dari kapan” tanya suster.. kujelaskan saja bahwa keluhannya sudah 1 minggu dengan gejala panas, pusing dan sedikit mual.. dan sudah tes darah di laboratorium..

” mba tes darah dulu ya, di laboratorium sebeh sana.. bla..bla..bla..” pinta suster sambil menunjukkan lokasi laboratorium. Batinku merasa aneh, seprti peramal saja si suster sertamerta meminta tes darah..

satu jam kemudian

“mba.. ini trombositnya rendah sekali, mba dirawat sekarang ya.. sini..sini.. tiduran disini jangan berdiri saja, nanti jatuh.. pusing kan..” katanya mengagetkan kami seraya menariknya dan membimbingnya ke tempat tidur..

“dok, temenku sakit apa ya..?” <== pertanyaan bodoh yang meluncur begitu saja karena panik. tanpa tedeng aling-aling pula dokter itu menjawab – mungkin karena melihat kami seperti terpelajar, jadi tidak sungkan bicara blak-blakan..

” sakitnya belum pasti mas, kalau gak tifus atau DBD, soalnya gejalanya hampir sama..”

ya allah.. betapa kaget aku.. dirawat..??? tifus or DBD..?? tapi yang lebih mengagetkan aku adalah ekpresi wanita yang kusayangi, diantara wajah pucatnya, ia masih tersenyum dan berucap “waah.. keren..!”, dalam hatiku menimpali “gubrak deh.. masih aja bisa senyum ni orang..”

setelah kuurus administrasi dan kuhubungi orang tuanya, kuantar ia memasuki ruangan yang bau pel lantai dan bau obat khas rumah sakit.. wow.. ternyata diruangan itu ada beberapa pasien seperti menunggu kami – maklum bukan di ruang VIP ia dirawat, lebih mirip barak tentara mungkin ya-, mereka juga sakit.. tampaknya sedang musim orang sakit di pergantian musim hujan dan panas ini..

ya allah.. ia tak punya siapa-siapa dibogor, aku juga tak punya siapa-siapa di kota yang sama ini.. kalau bukan aku, siapa lagi yang akan menunggunya di rumah sakit.. orang tuanya pun baru besok akan datang..

satu hari ada 2 kali darah disedot dari lengannya, alasannya untuk mengecek keadaannya, dan makin hari trombositnya makin turun.. tiap kali itu pula beberapa obat dibeli dan disutukkan ke dalam infus yang menempel..

setiap kali suster datang hanya untuk mengambil darah dan menanyakan “pusing..?? mual..??” dan berkali-kali infus diganti “mas infusnya diliatin ya, jangan sampai kosong, nanti diganti sama yang baru..”

aku sedih melihatnya tergolek lemas di atas tempat tidur, selalu kupanjatkan doa agar ia bisa melewati malam ini.. -sebelumnya aku dibisikkan suster “mas, malam ini malam kritis penyakitnya, mas jaga dia ya, kalau ada apa-apa aku ada di sebelah, jangan sampe infusnya habis”

-i sad remember this- dan kutatap wajahnya yang selalu senyum, bahkan ketika ia tidur di malam itu, ya.. itu pertama kali aku melihatnya tidur dengan wajah cantiknya yang pucat, sesekali kupegang tangannya, panas.. dan dengan sendirinya air mata menetes seperti menunjukkan padaku bahwa “wanita didepanmu ini sedang sangat-sangat kamu sayangi!! jaga dia..!!”

-still remember this while i write on- wajahnya seperti hidup dan entahlah.. nafasnya aku hitung bersama kekhawatiran.. dan aku yakin Anda yang membaca ini pasti akan merasakan hal yang sama kepada orang yang Anda sayangi..

tidak lagi positif thinking setelah kabar itu, karena bisa saja masa kritis malam ini adalah yang “terakhir” bila ia tak sanggup melewatinya, pemeriksaan trombosit terakhir di sore itu hanya 40.000 -entah apa satuannya- dan kenapa hanya aku yang menerima kabar ini, yang bisa kulakukan hanya menyebut nama allah berkali-kali, berharap keajaiban akan datang..

dan akupun tak sanggup melanjutkan kisah ini, karena yang kutahu sekarang ia tidak lagi bersamaku.. ia telah memilih seseorang yang lebih baik dari apa yang sekedar aku rasakan ketika malam itu, saat ia begitu aku sayangi, begitu aku jaga..

dear.. aku yakin kamu tidak akan lupa momen-momen itu, hanya saja akupun mengerti semua sudah berakhir.. hope Allah always protecting you.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: