Getah Pepaya, Potensi Ekonomi Terabaikan


Lemahnya usaha pertanian Indonesia dalam menggali
nilai tambah apapun komoditasnya, nyaris selalu
mengandalkan produk primer. Begitupun untuk pepaya
yang getahnya (papain) mempunyai banyak manfaat,
tetapi persoalannya petani kita jarang tahu tentang
potensi getah pepaya tersebut apalagi proses
pembuatannya. Padahal berdasarkan data FAO, Indonesia
merupakan negara penghasil pepaya keempat terbesar di
dunia setelah Brasil, Meksiko dan India.

Jakarta (CPAS)Malang Selatan bukan saja dikenal
sebagai daerah penghasil kopi, tetapi di tiga wilayah
yaitu Dampit, Gondanglegi, dan Turen bisa ditemui
bentangan kebun pepaya. Tiga daerah itu merupakan
sentra produsen pepaya di Jawa Timur. Setiap hari dari
sana sebanyak 100 truk pepaya yang dikirim ke Jakarta.
Ada yang didistribusikan ke Pasar Cibitung, Kramat
Jati hingga ke Muara Angke. Tujuan distribusi ini
sangat tergantung dari juragan yang mengirimnya.
Sedikitnya 20 juragan besar yang mengeruk uang dari
tata niaga pepaya itu. Tak mengherankan bila penanda,
seorang juragan pepaya memiliki rumah yang
magrong-magrong. Maklumlah, jerih payah mereka
membangun jaringan dagang itu memberikan peluang untuk
memperoleh untung relatif tinggi. Namun selama ini,
budi daya pepaya hanya lebih ditujukan untuk konsumsi
buah segar saja. Ini bisa dimaklumi karena daya serap
pasar masih terbuka lebar. Ini ditunjukkan dari
konsumsi per kapita sebesar 2,86 kg pepaya per tahun.
Prediksi angka itu terus bertambah, walau masih lebih
kecil dibandingkan beberapa negara tetangga. Malaysia
saja diperkirakan sudah di atas enam kilogram. Tetapi
masalah utama usaha pertanian di Indonesia adalah
lemahnya upaya menggali nilai tambah. Apapun
komoditasnya, nyaris selalu mengandalkan produk
primer. Mulai dari sawit yang mengandalkan crude palm
oil (CPO) hingga hasil perikanan yang lebih sering
dijual segar. Begitupun untuk pepaya. Keahlian petani
untuk memetik nilai tambah yang dimaksud relatif
kecil. Akibatnya, mana kala buah segar pepaya
membanjiri pasar maka hargapun anjlok, sehingga petani
lebih memilih membiarkan buah membusuk lantas dibuang
begitu saja. Pada sentra produksi cerita semacam ini
senantiasa terjadi.Idealnya petani pepaya itu
melakukan diversifikasi produk dengan memilih beberapa
pohon untuk dihasilkan getah (papain).Tapi
persoalannya petani relatif jarang tahu tentang
potensi getah pepaya tersebut apalagi proses
pembuatannya. Padahal Departemen Pertanian (Deptan)
sudah melakukan sosialisasi nilai ekonomis papain,
tetapi hanya kalangan tertentu saja yang bisa
memahaminya.Berdasarkan situs resmi Deptan, papain itu
mempunyai banyak manfaat. Produk itu kerap dicari
untuk digunakan sebagai pelunak daging, pembuat
konsentrat protein, pelembut kulit, antidingin, bahan
obat dan kosmetik, penggumpal susu dan keju,
konsentrat hingga perenyah kue. Pembuatan papain juga
terhitung sederhana. Petani cukup menderes batang atau
buah, kemudian diproses dengan zat tertentu. Agar
produksi tetap terjaga kebersihannya, maka perlu
memperhatikan peralatan yang digunakan. Misalnya perlu
sterilisasi pisau sadap, dan peralatan lain macam
ember, penampung getah, loyang, alat pengering hingga
saringannya. Getah hasil sadapan itu diolah dulu
dengan bahan penolong berupa air, NaHSO3 dan Na4S4O6.
Hasil olahan itulah yang siap dilempar ke pasar.
Hingga kini pasar menyerap produk padat maupun cair.
Kualitas juga beragam. Ada yang disebut crude papain
(papain kasar), refined papain (papain bersih) dan
pure papain (papain murni). Jenjang mutu ini diperoleh
sesuai cara olahan tadi. Belum ada statistik kebutuhan
riil dunia. Tetapi laporan dari sejumlah pengimpor
bahwa kebutuhan tak pernah bisa ditutupi produksi,
sehingga harga jadi terdongkrak. Di dalam negeri saja
harga papain sudah melebihi Rp.300.000 per kilogram.
Sejauh ini pasar tradisional adalah AS, Inggris,
Belgia dan Belanda. Pasar ini dimanfaatkan oleh
produsen papain dari Sri Lanka, Uganda, Tanzania,
Meksiko, Brasil dan Argentina. Dalam setahun
negara-negara itu bisa menghasilkan sedikitnya 275 ton
papain. Indonesia belum tercatat dalam bisnis papain
ini, padahal berdasarkan data FAO, Indonesia merupakan
negara penghasil pepaya keempat terbesar di dunia
setelah Brasil, Meksiko dan India.

http://www.mail-archive.com/forum@alumni-akabogor.net/msg00806.html

4 Responses

  1. Halo..Nama saya Wira..Saya adalah mahasiswa Universitas Surabaya yang ingin meneliti lebih jauh tentang papain..Saya ingin tahu, dalam aplikasinya yang digunakan untuk mengempukkan daging itu crude papain, purified papain atau liquid papain?Terima kasih sebelumnya atas informasinya.

  2. bro..saya punya lahan seluas 10 hektar yg semuanya sy tanami pepaya california,saat ini sdh mulai berbunga.
    ada yg bisa bantu utk onfo ke pabrik mana sy harus jual buahnya?
    trims.
    081327003635

    • dear mr. widi

      saya adalah salah satu distribusi pepaya california di jakarta , saya siap menampung produksi anda dengan harga pantas , syarat :

      1. berat antara 1 – 2.5 kg
      2. kemanisan brixt 11
      3. bentuk stara ( sudah melakukan seleksi buah )
      4. kondisi buah tidak sakit / sehat

      thanks

      • Assalaamu’alaikuum.wr.wb.

        Pak Sony saya Fuad Dusaqih SS tinggal di Sukabumi saya dipinjami lahan seluas 2,5 Ha, saya mencari pemodal yg mau kerja sama untuk menanam “PEPAYA CALIFORNIA” dengan bagi hasil yg saling menguntungkan sampai modal kembali kita rubah prosentasinya, mohon info bisa melalui SMS ke 085624456327 terima kasih,

        Wassalaamu’alaikuum.wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: